Luka (Jarih)

Luka (Jarih)

Walaupun dalam keadaan luka shalat wajib dilakukan. Dan sebelum shalat harus melakukan kewajiban bersuci dari hadast kecil atau hadast besar. Sekarang jika anggota tubuh kita terkena luka (jarih), kita diwajibkan bersuci seperti biasa (wudhu atau mandi junub). Dalam hal ini hukumnya terbagi atas dua bagian:

I- Luka tidak dibalut

Seperti telah kita ketahui bahwa anggota tayammum adalah wajah dan kedua tangan. Jika luka masih bisa dibasuh oleh air, maka kita wajib membasuhnya seperti tidak ada luka baik wudhu atau mandi besar.

Jika luka tidak bisa dibasuh air (menurut anjuran dokter) sedang lukanya berada dianggota tayammum (wajah dan tangan), maka wajib membasuh semua anggota yang sehat dengan air lalu bertayammum pada anggota yang terkena luka. Dan hal ini dilakukan dengan tertib. Misalnya, luka terdapat pada wajah, berarti tayammum dilaksanakan sebelum membasuh tangan. Atau luka terdapat pada tangan, maka tayammum dilakukan setelah membasuh wajah. Setelah sembuh lukanya tidak wajib mengulangi shalatnya.
 
Berlainan jika luka yang berada di anggota tayammum itu tidak bisa ditayammumkan. Artinya luka trb tidak bisa diusap dengan debu atau tidak bisa terkena debu. Maka hal yang seperti ini jika lukanya telah sembuh, ia wajib mengulangi (qadha) shalat yang selama ia tidak bertayammum.

Sekarang jika luka tidak berada di anggota tayammum (wajah dan tangan), maka cara semacam ini dianggap cukup dan tidak ada kewajiban mengulangi shalat setelah sembuh dari luka meskipun lukanya tidak ditayamumkan atau tidak bisa dikenai debu.

II- Luka dibalut perban

Jika luka dibalut dengan perban dan berada pada anggota tayammum (wajah dan tangan). Maka sebaiknya saat bersuci membuka perban, kemungkinan luka masih bisa dibasuh air atau diusap debu (bertayammum). Jika perban tidak mungkin dibuka, maka hukumnya membasuh anggota yang sehat dengan air lalu mengusap pembalut dengan kelima jari tanganya setelah dicelup dengan air (dengan tangan yang basah), setelah itu sebagai pengganti bagian tubuh yang tertutup pembalut  hendaklah ia bertayammum. Adapun bersuci seperti model ini shalanya wajib diulang setelah sembuh.

Kesimpulannya:

• Jika pembalut terletak bukan di anggota tayyammum (wajah dan tangan) maka tidak wajib mengulangi (mengqadha) shalatnya

• Jika pembalut terletak di anggota tayyammum (wajah dan tangan) maka wajib mengulangi shalatnya

• Jika pembalut diletakan dalam keadaan tidak berwudhu maka wajib mengulangi shalatnya

• Jika pembalut terbuat dari bahan yang najis atau terkena najis (selain darah dari lukanya) maka wajib mengulangi shalatnya

About these ads

Posted on Januari 28, 2013, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: