2- Mengkafankan Mayat

2- Mengkafankan Mayat

Mengkafankan mayat hukumnya fardhu kifayah bagi mayat.

عَنْ ابْنِ خُزَيْمَة أَنَّ رَجُلًا كَانَ مَعَ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَوَقَصَتْهُ نَاقَتُهُ وَهُوَ مُحْرِمٌ، فَمَاتَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اغْسِلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ، وَكَفِّنُوهُ فِي ثَوْبَيْهِ، وَلَا تَمَسُّوهُ بِطِيبٍ، وَلَا تُخَمِّرُوا رَأْسَهُ، فَإِنَّهُ يُبْعَثُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُلَبِّيًا (رواه الشيخان)

Sesuai dengan hadist dari Ibnu Khuzaimah ra, ia berkata: Ada seorang yang Ihram (melakukan haji) bersama Nabi saw, lalu ia jatuh tersungkur dari unta hingga wafat. Beliau bersabda: “Mandikanlah dia dengan air dan gunakanlah daun bidara, dan kafankan dia dengan dua lembar kainnya (kain ihramnya), jangan kalian berikan dia wangi-wangian, jangan tutup kepalanya, karena dia akan dibangkitkan pada hari kiamat nanti dengan bertalbiyah yaitu mengucapkan ”Labbaikallahumma Labaik.” (HR Bukhari Muslim)

Minimal mengkafani mayit cukup dengan menutup auratnya dengan selembar kain.

لِمَا صَحَّ أَنَّ مُصْعَب بْنُ عُمَيْرٍ قُتِلَ يَوْمَ أُحُدٍ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ إِلَّا نَمِرَةٌ كُنَّا إِذَا غَطَّيْنَا بِهَا رَأْسَهُ خَرَجَتْ رِجْلَاهُ وَإِذَا غَطَّيْنَا رِجْلَيْهِ خَرَجَ رَأْسُهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَطُّوا بِهَا رَأْسَهُ وَاجْعَلُوا عَلَى رِجْلَيْهِ مِنْ الْإِذْخِرِ (رواه الشيخان)

Diriwayatkan bahwa Mush’ab bin Umair mati shahid dalam perang Uhud, sedangkan ia hanya meninggalkan sehalai kain. Jika digunakan untuk menutup mukanya maka kakinya akan nampak. Jika digunakan untuk menutup kakinya maka mukanya akan nampak. Rasulallah saw bersabda: “Tutupkanlah kain itu pada bagian yang dekat kepalanya dan letakkanlah pada kedua kakinya idzkhir” (HR Bukhari Muslim). Idzkhir adalah sejenis tanaman yang meiliki aroma seperti mawar.

Sedangkan bentuk maksimal mengkafani mayat laki-laki adalah dengan menggunakan tiga helai kain, setiap helai kain bisa menutup seluruh tubuhnya tanpa baju atau kupian atau sorban (tutup kepala).

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” كُفِّنَ فِي ثَلَاثَةِ أَثْوَابٍ سَحُوْلِيَّةٍ لَيْسَ فِيهَا قَمِيصٌ وَلَا عِمَامَةٌ (رواه الشيخان)

Dari Aisyah ra, ia berkata: “Rasulullah saw dikafani dengan menggunakan tiga lapis kain yamani yang berwarna putih tanpa qamis (baju) dan surban.”

(HR Bukhari Muslim)

Dan cara yang paling sempurna mengkafankan mayat perempuan yaitu dengan 5 helai kain: kebaya, kerudung, baju kurung (gamis), dan dua lapis kain putih.

عَنْ  لَيْلَى بِنْتِ قَانِف الثَقَفِيَّة رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قالت : كُنْتُ فِيمَنْ غَسَّلَ أُمَّ كُلْثُومٍ بِنْتَ رَسُولِ الله اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ وَفَاتِهَا، فَكَانَ أَوَّلُ مَا أَعْطَانَا رَسُولُ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحِقَاءَ ثُمَّ الدِّرْعَ ثُمَّ الْخِمَارَ ثُمَّ الْمِلْحَفَةَ، ثُمَّ أُدْرِجَتْ بَعْدُ في الثَّوْبِ الآخِرِ. قَالَتْ: وَرَسُولُ الله اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ عِنْدَ الْبَابِ مَعَهُ كَفَنُهَا يُنَاوِلُنَاهَا ثَوْبًا ثَوْبًا (رواه أحمد وأبو داود بإسناد حسن)

Dari Laila binti qanif Atsaqofiyah, ia berkata:  Pernah aku bersama orang yang memandikan ummu kultsum putri Rasulullah saw di waktu wafatnya, maka yang pertama diberikan pada kami oleh Rasulullah saw untuk mengkafaninya ialah kain, kemudian baju, dan selanjutnya kerudung kemudian baju luar, seterusnya ia (mayat) dimasukan ke dalam satu lembar kain. Rasulallah saw duduk di depan pintu bersama kafanya. Beliau memberikanya satu per satu (HR. Ahmad dan Abu Daud dengan sanad baik)

Cara mengkafankan Mayat

Sebelum mayit diangkat dari tempat pemandian, kain-kain kafan yang telah dibubuhi wewangian (diukup) disiapkan.

setelah itu kafan yang terbaik digelar dan disebar diatasnya kayu cendana dan kapur barus. Kemudian digelar lagi kafan yang kedua dan ketiga dengan disebarkan kayu cendana dan kapur barus.

Lalu mayat setelah dimandikan dan dikeringkan dengan handuk diletakan dalam keadaan terlentang, kedua tangannya diletakan di atas pusarnya seperti dalam posisi shalat yaitu tangan yang kanan diatas yang kiri.

Kemudian lubang lubang hidungnya, mulutnya, telinganya, matanya, jidat dan ketiaknya, serta kedua aurat depan dan belakang, begitu pula sela-sela jari baik kaki atau pun tangan, dan luka yang berlubang ditutup dengan kapas yang telah diberi kayu cendana dan kapur barus.

Setelah hal-hal tersebut selesai dilakukan dengan sempurna, kain kafan mulai ditutup dengan urutan sebagai berikut: pertama kain kafan sebelah kiri, kemudian kain kafan sebelah kanan. Sebelah kiri lagi, kemudian sebelah kanan. Demikian seterusnya.

Selanjutnya, ujung masing-masing kain kafan yang berada pada sisi kepala dan kaki  mayit disatukan, kemudian diikat erat-erat dengan tali, agar tidak sampai lepas pada saat di bawa ke pemakaman.

Posted on Februari 29, 2012, in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: