Sunah Kedua Khutbah

Sunah Kedua Khutbah

  • Dilakukan diatas mimbar atau tempat yang agak tinggi, dan letak mimbar di sebelah kanan mihrab, karena cara ini lebih sempurna dalam berdakwah, sesuai dengan hadist Rasulallah saw sesungghuhnya beliau berkhutbah di atas mimbar (HR Bukhari Muslim)
  • Khatib memberi salam kepada hadirin setelah naik ke atas mimbar, sesuai dengan hadist Rasulallah saw sesungguhnya beliau jika telah naik ke atas mimbar di hari Jum’at dan menghadap ke arah manusia beliau mengucapkan ”Assalamu ’alaikum” (HR Baihaqi dengan isnad yang tidak kuat)
  • Khatib duduk diwaktu bilal beradzan sesuai dengan hadist Rasulallah saw dari As-Saib bin yazid as-Shahabi ra, ia berkata ”Sesungguhnya adzan di hari jum’at ketika imam duduk di atas mimbar, hal ini terjadi pada zaman Rasulallah saw, Abu Bakar dan Umar ra (HR Bukhari)
  • Khatib memegang busur panah atau tongkat di tangan kirinya, sesuai dengan hadist yang diriwayatkan dari al-Hakam bin Huzn ra, ia berkata ”saya datang kepada Nabi saw dan kami bershalat jum’at bersama sama beliau dan kami menyaksikan beliau berdiri memegang panah atau tongkat. Beliau memuji Allah dengan kalimat kalimat yang ringan dan berkah” (HR Abu Dawud, hadist hasan)
  • Khutbah yang dilbacakan jelas dan tegas bisa difahami seluruh lapisan masyarakat
  • Kedua khutbah yang dibacakan harus ringkas tidak panjang lebar, sesuai dengan hadist Rasulallah saw beliau bersabda ” Sesungguhnya panjangnya shalat seseorang dan pendeknya khutbah merupakan tanda kedalaman fiqihnya. Maka panjangkanlah shalat dan pendekanlah khutbah” (HR. Muslim)
  • Khatib mengeraskan suaranya agar bisa didengar, sesuai dengan hadist Rasulallah saw (sebelumnya)  ”Apabila Rasulullah saw menyampaikan khutbah pada hari Jum’at beliau memuji Allah, suaranya lantang” (HR Muslim)

Keterangan (Ta’liq):

Imam Bukhari memberikan keterangan dalam Kitab shahihnya bahwa pada masa Rasulullah saw, Abu Bakar dan Umar ra, adzan dalam shalat jumat dilakukan sekali saja. Baru pada masa Usman bin Affan ra adzan dilakukan dua kali. Ini merupakan bid’ah hasanah yaitu bid’ah yang dilakukan oleh Sayyidina Ustman bin Affan ra setelah meluasnya kota Madinah dan penduduk semakin banyak. Jadi beliau memerintahkan untuk menambahkan adzan kedua pada pada hari Jumat tatkala semakin banyak jamaah masjid.  Sama halnya dengan shalat tarawih, yang pertama kali memerintahkan shalat tarawih berjamaah adalah Sayyidina Umar bin khathab ra dan ini merupakan bid’ah hasanah atau ijma’ sukuti (ijma’ yang tidak dikomentari).

Posted on Februari 29, 2012, in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: