Shalat dan Khutbah Jum’at

Shalat Jum’at

Shalat jum’at wajib bagi setiap laki-laki merdeka, Muslim, berakal, baligh, penduduk negeri, mempunyai pakaian dan tidak berhalangan (sakit). Shalat ini sebagai pengganti sholat Dhuhur yang dilakukan dua raka’at di masjid jami’.

Allah berfirman

يأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاَةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْاْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُواْ الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ – الجمعة ﴿٩﴾

 

”Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Qs al-Jumu’ah ayat: 9).

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ حَفْصَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: رَوَاحُ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ (النسائي بإسناد صحيح)

Dari Ibnu Umar ra, dari Hafshah istri Nabi saw, Rasulallah saw bersabda: “Shalat jum’at wajib atas setiap laki laki baligh” (An-Nasai’ dengan sanad shahih)

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : صَلاةُ الْجُمُعَةِ رَكْعَتَانِ ، وَصَلاةُ الأَضْحَى رَكْعَتَانِ ، وَصَلاةُ الْمُسَافِرِ رَكْعَتَانِ تَمَامٌ غَيْرُ قَصْرٍ ، عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (أحمد و الشافعي و ابن ماجه)

Sesuai dengan hadits dari Umar bin Khathab ra, ia berkata ”Shalat jum’at dua raka’at dua raka’at, shalat iedul adha dua raka’at, shalat musafir dua raka’at sempurna tidak di-qashar menurut lisan Nabi kamu Muhammad saw” (HR Ahmad, as-Syafie dan Ibnu Majah).

لِمَا رُوِيَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَربَعَة : عَبدٌ مَملُوكٌ ، أَو امرَأَةٌ ، أَو صَبِيٌّ ، أَو مَرِيضٌ (أبو داود بإسناد صحيح)

Begitu pula Rasulallah saw bersabda dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang shahih ”Shalat jum’at adalah hak yang wajib atas setiap muslim dengan berjama’ah kecuali atas 4 orang, budak belian, wanita, anak kecil, dan orang sakit”.

Syarat Sahnya Sholat Jum’at

– Harus dilakukan di masjid Jami’, bukan di tanah lapang

– Harus dilakukan berjama’ah sedikitnya 40 orang laki-laki, merdeka penduduk negeri (daerah).

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ كَعْبٍ ابْنَ مَالِكٍ ، قَالَ : كَانَ أَوَّلَ مَنْ جَمَعَ بِنَا بِالْمَدِينَةِ أَسْعَدُ بْنُ زُرَارَةَ قَبْلَ مَقْدَمِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَزْمِ النَّبِيتِ مِنْ حَرَّةِ بَنِي بَيَاضَةَ فِي نَقِيعٍ ، يُقَالُ لَهُ : الْخَضَمَاتُ قُلْتُ: كَمْ كُنْتُمْ يَوْمَئِذٍ ؟ قَالَ : أَرْبَعُونَ رَجُلاً (أبو داود و البيهقي و غيرها بأسانيد صحيحة)

Sesuai dengan hadits dari Abdurahmam bin Ka’ab bin Malik ra, ia berkata: ”Sesungguhnya orang yang pertama mengumpulkan untuk shalat jum’at di Madinah adalah As’ad bin Abi Zurarah sebelum hijrahnya Nabi saw ke Madinah di satu tempat di Naqie al-Khadhmat. Kemudian ditanya ”berapa bilangan kamu pada saat itu?” Ia menjawab ”40 laki-laki”. (HR Abu Dawud dan al-Baihaqi dengan isnad shahih).

Jadi, tidak ada hadits yang menetapkan bahwa shalat jum’at dilakukan kurang dari 40 orang laki laki.

– Shalat Jum’at dan khuthbahnya harus dilakukan setelah masuk shalat Dhuhur,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي الْجُمُعَةَ حِينَ تَمِيلُ الشَّمْسُ (البخاري)

sesuai dengan hadits Rasulallah saw dari Anas ra sesungguhnya Rasulallah saw bershalat Jumat ketika matahari bergelincir (HR Bukhari)

– Harus didahulukan dengan khutbah pertama dan kedua,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ خُطْبَتَيْنِ ، فَإِنَّمَا يَجْلِسُ بَيْنَهُمَا (البخاري و مسلم)

Sesuai dengan hadits Rasulallah saw dari Ibnu Umar ra ia berkata: ”sesungguhnya Rasulallah saw berkhutbah di hari Jumat dengan dua khuthbah dan duduk antara keduanya” (HR Bukhari Muslim)

– Masjid jami’ yang didirikan shalat jum’at harus tidak berdekatan dengan masjid jami’ lainnya di satu kampung, kecuali di kota besar yang penduduknya banyak dan masjid itu tidak bisa lagi menampung jama’ahnya.

Rukun Khutbah Jum’at

1- Membaca Alhamdulillah (pujian terhadap Allah) dikhutbah pertama dan kedua.

عَنْ جَابِرِ ابن عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : كَانَتْ خُطْبَةُ النّبِيّ صَلّى اللّه عَلَيْهِ وَسَلّمَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ يَحْمَدُ اللّهَ وَيُثْنِي عَلَيْهِ ثُمّ يَقُولُ عَلَى أَثَرِ ذَلِكَ وَقَدْ عَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدّ غَضَبُهُ حَتّى كَأَنّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ صَبّحَكُمْ وَمَسّاكُمْ وَيَقُولُ بُعِثْتُ أَنَا وَالسّاعَةُ كَهَاتَيْنِ وَيُقْرِنُ بَيْنَ أُصْبُعَيْهِ السّبّابَةِ وَالْوُسْطَى وَيَقُولُ أَمّا بَعْدُ فَإِنّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللّهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمّدٍ وَشَرّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلَالَة ثُمّ يَقُولُ أَنَا أَوْلَى بِكُلّ مُؤْمِنٍ مِنْ نَفْسِهِ مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِأَهْلِهِ وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَإِلَيّ وَعَلَيّ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

Sesuai dengan hadist yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah ia berkata: bahwasanya; Apabila Rasulullah saw menyampaikan khutbah pada hari Jum’at beliau memuji Allah, suaranya lantang, dan semangatnya berkobar-kobar bagaikan panglima perang yang sedang memberikan komando kepada bala tentaranya. Beliau bersabda: Hendaklah kalian selalu waspada di waktu pagi dan petang. Aku diutus antara aku dan hari kiamat adalah seperti dua jari ini (yakni jari telunjuk dan jari tengah). Kemudian beliau melanjutkan bersabda: Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad saw. Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan dan setiap bid’ah adalah sesat. Kemudian beliau bersabda: Aku lebih utama bagi setiap muslim daripada dirinya sendiri. Karena itu, siapa yang meninggalkan harta, maka harta itu adalah miliki keluarganya. Sedangkan siapa yang mati dengan meninggalkan hutang atau keluarga yang terlantar, maka hal itu adalah tanggungjawabku. (HR Muslim)

2- Membaca shalawat atas Nabi saw di khutbah pertama dan kedua, karena setiap perbuatan akan sempurna jika dimulai dengan menyebut nama Allah dan shalawat terhadap Rasulallah saw, seperti adzan dan iqamah.

3- Berwasiat agar bertaqwa di khutbah pertama dan kedua sesuai dengan hadist di atas yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah dimana Rasulallah saw mengingatkan orang-orang islam agar takut kepada Allah

4- Mebaca ayat suci al-Qur’an di khutbah pertama dan kedua

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ كَانَتْ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُطْبَتَانِ يَجْلِسُ بَيْنَهُمَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيُذَكِّرُ النَّاسَ (مسلم)

sesuai dengan hadits yang diriwayatkan dari Jabir bin Samrah ra, ia berkata: “sesungguhnya Rasulallah saw duduk di antara dua khubah jum’at, membaca Al-Qur’an dan menasihati manusia” (HR Muslim)

5- Memanjatkan do’a untuk Muslimin di khutbah kedua, sesuai dengan perbuatan para salaf.

Syarat Kedua Khutbah

1- Dilakukan setelah masuk waktu Dhuhur, karena shalat jum’at dan khutbahnya sebagai pengganti shalat dzuhur, sedang waktu shalat dzuhur masuknya setelah tergelincirnya mata hari.

2- Dilakukan dalam keadaan berdiri bagi yang mampu

3- Duduk antara kedua khutbah sekedar thuma’ninah.

عَنْ جَابرِ بن سَمُرةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أنَّ النّبيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كانَ يخطُبُ قائماً، ثم يَجْلِسُ ، ثمَّ يقومُ فَيَخْطبُ قائماً، فَمَنْ أنْبَأَكَ أَنهُ كانَ يخطُبُ جالساً فَقَدْ كَذَبَ (رواه مسلم)

Sesuai dengan hadits dari Jabir bin Samrah ra, ia berkata: ”Bahwasanya Rasullah saw berkhutbah jum’at dalam keadaan berdiri, lalu duduk antara dua khutbah, kemudian berdiri lagi dan berkhutbah dalam keadaan berdiri, barang siapa yang membawa berita bahwa beliau berkhutbah dalam keadaan dukuk maka ia telah berdusta” (HR Muslim)

4- Dilakukan dalam keadaan suci dari kedua hadast

5- Suci pakaian, badan dan tempat dari najis, karena Rasulallah saw tidak berkhutbah jum’at kecuali dalam keadaan suci

6- Menutup aurat

7- Dilakukan berturut turut antara kedua khutbah dan shalat

8- Didengar oleh 40 orang sedikitnya

9- Rukun rukun khutbah harus diucapkan dalam bahasa Arab demi untuk menyeragamkan khutbah islam sedunia

Sunah Kedua Khutbah

  • Dilakukan diatas mimbar atau tempat yang agak tinggi, dan letak mimbar di sebelah kanan mihrab, karena cara ini lebih sempurna dalam berdakwah, sesuai dengan hadist Rasulallah saw sesungghuhnya beliau berkhutbah di atas mimbar (HR Bukhari Muslim)
  • Khatib memberi salam kepada hadirin setelah naik ke atas mimbar,

عَنْ الشَّعْبِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا صَعِدَ الْمِنْبَرَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، اسْتَقْبَلَ النَّاسَ، فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ (البيهقي بإسناد ليس بقوي)

sesuai dengan hadits Rasulallah saw dari as-Sya’bi ra: sesungguhnya beliau jika telah naik ke atas mimbar di hari Jum’at dan menghadap ke arah manusia beliau mengucapkan ”Assalamu ’alaikum” (HR Baihaqi dengan isnad tidak kuat)

  • Khatib duduk diwaktu bilal beradzan

عَنْ السَائِب بِنْ يَزِيْد الصَحَابِيّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ انَ التَّأْذِينُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ حِينَ يَجْلِسُ الْإِمَامُ – يَعْنِي عَلَى الْمِنْبَرِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَبُو بَكْرٍ ، وَعُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا (البخاري)

sesuai dengan hadits Rasulallah saw dari As-Saib bin yazid as-Shahabi ra, ia berkata ”Sesungguhnya adzan di hari jum’at ketika imam duduk di atas mimbar, hal ini terjadi pada zaman Rasulallah saw, Abu Bakar dan Umar ra (HR Bukhari)

  • Khatib memegang busur panah atau tongkat di tangan kirinya,

عن الْحَكَمُ بْنُ حَزْنٍ الْكُلَفِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : فَلَبِثْنَا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَّامًا شَهِدْنَا فِيهَا الْجُمُعَةَ ، فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَكِّئًا عَلَى قَوْسٍ أَوْ قَالَ : عَلَى عَصًا فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ كَلِمَاتٍ خَفِيفَاتٍ طَيِّبَاتٍ مُبَارَكَاتٍ (حسن أبو داود و غيره)

Dari al-Hakam bin Huzn al-Kulafiy ra, ia berkata ”Kami tinggal bersama Nabi saw beberapa hari dan menyaksikan shalat jum’at bersama sama beliau, beliau berdiri memegang panah atau tongkat. Beliau memuji Allah dengan kalimat kalimat yang ringan dan berkah” (HR Abu Dawud dll, hadist hasan)

  • Khutbah yang dilbacakan jelas dan tegas bisa difahami seluruh lapisan masyarakat
  • Kedua khutbah yang dibacakan harus ringkas tidak panjang lebar,

لِمَا صَحَّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ قَالَ : إِنَّ طُولَ صَلاةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ ، فَأَطِيلُوا الصَّلاةَ وَأَقْصِرُوا الْخُطَبَ ( رواه مسلم )

sesuai dengan hadits Rasulallah saw beliau bersabda ” Sesungguhnya panjangnya shalat seseorang dan pendeknya khutbah merupakan tanda kedalaman fiqihnya. Maka panjangkanlah shalat dan pendekanlah khutbah” (HR. Muslim)

  • Khatib mengeraskan suaranya agar bisa didengar,

“كَانَتْ خُطْبَةُ النّبِيّ صَلّى اللّه عَلَيْهِ وَسَلّمَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ يَحْمَدُ اللّهَ وَيُثْنِي عَلَيْهِ ثُمّ يَقُولُ عَلَى أَثَرِ ذَلِكَ وَقَدْ عَلَا صَوْتُهُ” (رواه مسلم)

sesuai dengan hadits Rasulallah saw (sebelumnya) dari Jabir bin Abdullah ra, ia berkata: ”Apabila Rasulullah saw menyampaikan khutbah pada hari Jum’at beliau memuji Allah, suaranya lantang” (HR Muslim)

Keterangan (Ta’liq):

Imam Bukhari memberikan keterangan dalam Kitab shahihnya bahwa pada masa Rasulullah saw, Abu Bakar dan Umar ra, adzan dalam shalat jumat dilakukan sekali saja. Baru pada masa Usman bin Affan ra adzan dilakukan dua kali. Ini merupakan bid’ah hasanah yaitu bid’ah yang dilakukan oleh Sayyidina Ustman bin Affan ra setelah meluasnya kota Madinah dan penduduk semakin banyak. Jadi beliau memerintahkan untuk menambahkan adzan kedua pada pada hari Jumat tatkala semakin banyak jamaah masjid.  Sama halnya dengan shalat tarawih, yang pertama kali memerintahkan shalat tarawih berjamaah adalah Sayyidina Umar bin khathab ra dan ini merupakan bid’ah hasanah atau ijma’ sukuti (ijma’ yang tidak dikomentari).

Sunah-Sunah Jum’at

@  Mandi sebelum pergi sholat jum’at, waktunya mulai masuknya fajar hari jum’at dan sebaiknya di siang hari sebelum masuk waktu shalat,

عَنْ ابْنِ عُمَر رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، أن رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : مَنْ جَاءَ مِنْكُمُ الْجُمُعَةَ فَلْيَغْتَسِلْ (الشيخان)

Dari Ibnu Umar ra, sesungguhnya beliau bersabda ”Siapa yang datang kepadanya hari Jum’at, maka madilah” (HR Bukhari Muslim)

@  Memakai siwak atau sikat gigi, memotong kuku, membersihkan rambut, memakai minyak wangi dan memakai pakaian yang baik dan bersih,

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ و أَبِي هرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الجُمُعَةِ وَاسْتَاكَ وَمَسَّ مِنْ طِيبٍ إِنْ كانَ عِنْدَهُ وَلَبِسَ مِنْ أَحْسَنِ ثِيَابِهِ ثُمَّ خَرَجَ حَتَّى يَأْتِيَ المَسْجِدَ وَلَمْ يَتَخَطَّ رِقَابَ النَّاسِ ثُمَّ رَكَعَ مَا شَاءَ الله أَنْ يَرْكَعَ ثُمَّ أَنْصَتَ إِذَا خَرَجَ الإِمَامُ فَلَمْ يَتَكَلَّمْ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْ صَلاَتِهِ كانَتْ كَفَّارَةً لِمَا بَيْنَهَا وَبَيْنَ الجُمُعَةِ الأُخْرَى (أبو داود و أحمد بأسانيد صحيحة)

Dari Abu Said dan Abu Hurairah ra: ”Barangsiapa yang mandi pada hari jum’at, memakai siwak, memakai minyak wangi jika dia memilikinya, memakai pakaian yang terbaiknya kemudan mendatangi mesjid sementara dia tidak melangkahi pundak-pundak orang lain sehingga dia ruku’ (shalat) sekehendaknya, kemudian diam  mendengarkan imam pada saat dia berdiri untuk berkhutbah sehingga selesai shalatnya maka hal itu sebagai penghapus dosa-dosa yang terjadi antara jum’at ini dengan hari jum’at sebelumnya (HR Abu Dawud dan Ahmad dengan isnad2 shahih)

@  Menuju masjid sebelum waktu kecuali imam, sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulallah saw bersabda:

عَنْ أَبِي هرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ حَضَرَتْ الْمَلَائِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ (الشيخان)

”Barangsiapa yang mandi pada hari jum’at yang sama seperti mandi janabah kemudian bersegera pergi ke mesjid maka dirinya seakan telah berkurban dengan seekor unta yang gemuk, dan barangsiapa yang pergi pada masa kedua maka dia seakan berkurban dengan seekor sapi, dan barangsiapa yang pergi ke mesjid pada saat yang ketiga maka dia seakan telah berkurban dengan seekor kambing yang bertanduk, dan barangsiapa yang pergi ke mesjid pada saat yang keempat maka dia seakan telah berkurban dengan seekor ayam, dan barangsiapa yang pergi ke mesjid pada saat yang kelima maka dia seakan telah berkurban dengan sebutir telur, dan apabila imam telah datang maka para malaikat hadir mendengarkan zikir (khutbah).”

@  Berjalan kaki menuju masjid jika tidak ada udzur dan dengan tenang (tidak terburu-buru), sesuai dengan hadist Nabi saw

لِمَا صَحَّ أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إذَا أَتَيْتُمُ الصَّلاةَ فَأْتُوهَا وَأَنْتُمْ تَمْشُونَ وَعَلَيْكُمُ السَّكِينَةُ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَاقْضُوا (الشيخان)

Rasulallah saw bersabda: “Jika kamu pergi untuk shalat maka pergilah dengan berjalan kaki dengan tenang. Apa yang kamu dapatkan (dari raka’at shalat) maka laksanakanlah dan apa yang tertinggal (dari raka’at) ulangilah (HR. Bukhari Muslim)

@  Diusahakan jangan menggunakan kendaraan saat menuju ke masjid, sesuai dengan hadits Nabi saw:

عَنْ أَوْسُ بْنُ أَوْسٍ الثَّقَفِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا مِنْ الْإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا (رواه النسائي، الترمذي ، ابو داود)

Dari Aus bin Aus At-tsaqafi, ia mendengar Rasulallah saw bersabda: “Barangsiapa membasuh dan mandi pada hari Jum’at, lalu bersegera pergi (menuju masjid) dengan berjalan kaki tanpa berkendaraan, mendekat kepada imam, diam dan tidak berkata-kata sia-sia : maka baginya pada setiap langkahnya itu pahala amal setahun, (yaitu) puasa dan shalatnya”. (HR An-Nasai’, At-Tirmidzi, Abu Daud)

@  Memperbanyak membaca shalawat atas Nabi saw sepanjang hari Jum’at atau pada waktu malamnya, berdasarkan sabda Nabi saw dari Aus bin Aus ra.:

عَنْ أَوْسُ بْنُ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ أنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ (أبو داود و النسائي بأسانيد صحيحة)

”Hari terbaik kalian adalah hari jum’at, maka perbanyaklah membaca shalawat bagiku sebab shalawat kalian didatangkan kepadaku”. (HR an-Nasai’ dengan sanad shahih)

@  Membaca surat al-Kahfi di hari jum’at, sesuai dengan hadits Rasulallah saw dari Abi Said Al-Khudri ra bahwa Rasulallah saw bersabda:

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِي رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، أَضَاءَ لَهُ مِنْ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ (الحاكم و البيهقي)

”Barangsiapa yang membaca surat Al-kahfi pada hari jum’at maka sinar akan memancar meneranginya antara dua jum’at”. (HR al-Hakim dan al-Baihaqi)

@  Disnunahkan bagi imam membaca surat Al-Jumu’ah di raka’at pertama dan surat Al-Munafiqun di raka’at kedua, atau membaca “Sabihisma robbikal a’la” di raka’at pertama dan “Al-Ghasyiah” di raka’at kedua.

عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ مَوْلَى النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلاةُ وَالسَّلامُ ، قَالَ : اسْتَخْلَفَ مَرْوَانُ أَبَا هُرَيْرَةَ عَلَى الْمَدِينَةِ ، وَخَرَجَ إِلَى مَكَّةَ ، فَصَلَّى أَبُو هُرَيْرَةَ بِنَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، فَقَرَأَ بَعْدَ سُورَةِ الْجُمُعَةِ بـ إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ فِي السَّجْدَةِ الآخِرَةِ . قَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ : فَأَدْرَكْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ حِينَ انْصَرَفَ ، فَقُلْتُ : تَقْرَأُ السُّورَتَيْنِ كَمَا كَانَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقْرَأُ بِهِمَا فِي الْكُوفَةِ ؟ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ : وَسَمِعْتُ النَّبِيَّ ، عَلَيْهِ الصَّلاةُ وَالسَّلامُ ، يَقْرَأُ بِهِمَا (رواه مسلم)

Dari Ubaidillah bin Abi Raafi’ ra, ia berkata: Marwan mangangkat Abu Hurairah sebagai gubernur kota Madinah. Abu Hurairah berangkat ke Makkah, kemudian shalat jum’at. Ia membaca pada raka’at pertama surat Al-jumu’ah dan surat Al-Munafiqun pada raka’at kedua. Ubaidillah berkata: Aku dapatkan Abu Hurairah ketika selesai shalat. Lalu aku berkata kepadanya: ”sesungguhnya kamu telah membaca dua surat dimana Ali bin Abi Thalab ra membacanya juga sewaktu berada di Kufah” Abu Hurairah berkata: Sesungguhnya aku mendengar Rasulallah saw membaca juga kedua surat tsb pada hari jum’at”:  (HR Muslim)

عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْعِيدَيْنِ ، وَفِي الْجُمُعَةِ بِـ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى وَ هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ ، قَالَ : وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِي الصَّلاتَيْنِ (رواه مسلم)

Dari a-Nu’man bin Basyir ra, ia berkata: ”sesungguhnya Rasulallah saw membaca (Sabihisma rabbikal a’la) dan (Hal ataka hadistul ghasyiah) pada hari Raya dan hari jum’at. Dan jika hari raya dan hari jum’at jatuh pada hari yang sama beliau juga membaca kedua surat tsb dalam kedua shalatnya (Hari Raya dan Jum’at) (HR Muslim)

@  Memperbanyak do’a di hari Jum’at karena pada hari itu terdapat saat terkabulnya do’a, yaitu saat saat di mana tidaklah seorang hamba meminta kepada Allah kecuali akan dikabulkan permohonannya, sesuai dengan hadits Rasulallah saw dari Abi Hurairah ra bahwa beliau bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ فِيهَا خَيْرًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ قَالَ وَهِيَ سَاعَةٌ خَفِيفَةٌ (رواه الشيخان)

“Sesungguhnya pada hari jum’at terdapat satu saat tidaklah seorang muslim meminta kepada Allah suatu kebaikan kecuali Allah memberikannya, dan saat tersebut sangat sedikit.” (HR Bukhari Muslim)

Yang Mendapatkan Shalat Jum’at

  • Orang yang ketinggalan satu raka’at bersama imam, harus menambah satu raka’at setelah salam imam.
  • Orang yang mendapatkan ruku bersama imam di raka’at kedua, harus menambah satu raka’at setelah salam imam.
  •  Orang yang mendapatkan imam sudah bangun dari ruku di raka’at kedua, ia harus melakukan shalat dhuhur 4 raka’at setelah salam imam. Ini yang dinamakan niat tanpa shalat dan shalat tanpa niat yaitu niat ingin shalat jum’at tapi tidak shalat jum’at dan tidak niat shalat dhuhur tapi harus shalat dhuhur.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلَاةِ، فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ (رواه الشيخان)

Dari Abu Hurairah ra, Rasulallah saw bersabda: ”Barangsiapa mendapatkan satu raka’at dari shalat (jum’at), berarti ia telah mendapatkan shalat” (HR Bukhari Muslim)

Posted on Oktober 6, 2013, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. saya tdk mengomentari,krn tulisan pak kyai Hasan husen assagaf menurut saya sdh cukup bgs, hanya sy ingin bertanya, apakah sholat jum’ah, jika terdapat kekuranga pd imam sholat apakah boleh kita melakukan sujud sahwi? Wassalam

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: