Shalat Sunah Bukan Rawatib Dilakukan Secara Berjama’ah

2- Shalat Sunah Bukan Rawatib Yang Dilakukan Secara Berjama’ah

Ada beberpa sunah bukan rawatib yang dilakukan secara berjama’ah, yaitu:

a- Shalat TarawihShalat tarawih hukumnya mustahab (sunah) menurut ijma’ ulama, sesuai dengan riwayat Abu Hurairah ra ia berkata: Rasulullah saw pernah menggalakkan sahabatnya berqiam Ramadhan tanpa menyuruh mereka dengan kesungguhan (ini menunjukkan bukan suatu kewajiban), lalu beliau bersabda: “Barangsiapa menegakkan Ramadhan dalam keadaan beriman dan mengharap balasan dari Allah, niscaya diampuni dosa yang telah lalu.” (HR Muttafaqun ‘alaih).Adapun bilangan raka’atnya adalah 20 raka’at dengan sepuluh salam, dianjurkan agar dilakukannya berjama’ah sebagaimana diriwayatkan bahwa ketika sayyidina Umar bin Khattab ra melihat Muslimim shalat di masjid pada malam bulan Ramadhan, maka sebagian mereka ada yang shalat sendirian dan ada pula yang shalat secara berjama’ah kemudian beliau mengumpulkan mereka dalam satu jama’ah dan dipilihlah Ubai bin Ka’ab ra sebagai imam (Shahih Al-Bukhari).…selanjutnya b- Shalat Iedul Fitri dan Iedul AdhaKedua shalat ini hukumnya sunah muakkadah yaitu sunah yang selalu dikerjakan Nabi saw.Sesuai dengan hadist tersebut sebelumnya dari Thalhan bin Ubaidillah ra, yaitu  seseorang dari penduduk Najed tiba-tiba ia bertanya tentang Islam. Lalu Rasulullah saw. bersabda: (Islam itu adalah) salat lima kali dalam sehari semalam. Orang itu bertanya: Adakah salat lain yang wajib atasku? Rasulullah saw. menjawab: Tidak ada, kecuali jika engkau ingin melakukan salat sunat. Demikian seterusnya ia bertanya tengang zakat dan puasa, dan akhirnya ia berkata: Demi Allah, aku tidak akan menambahkan kewajiban ini dan tidak akan menguranginya. Mendengar itu, Rasulullah saw. bersabda: ”Ia orang yang beruntung jika benar apa yang diucapkannya.” (HR Bukhari Muslim)

Kedua shalat ini dilakukan dua raka’at diiringi dengan niat shalat iedul fitri atau iedul adha, waktunya setelah terbit matahari sampai condongnya..selanjutnya

 

Takbir Iedul Fitri & Adha

  • Takbir pada waktu Hari Raya Ied (idul Fitri & idul Adha) hukumnya sunah.
  • Takbir merupakan suatu pemandangan indah yang mencerminkan syi’ar Islam dan ukhuwah islamiyah (persaudaraan), sesungguhnya orang islam itu bersaudara.
  • Takbir adalah pernyataan syukur kepada Allah atas selesainya pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan yaitu suatu ibadah badaniah yang paling lama dilaksanakan oleh seorang Muslim dari fajar menyingsing sampai terbenamya matahari selama satu bulan .
  • Takbir merupakan pengumuman selesainya ibadah Haji setelah wukuf di Arafat pada tanggal 9 Dzul Hijjah dan melontar Jumratul Aqabah pada tanggal 10 Dzulhijjah (tahallul).
  • Disunahkan bagi setiap orang mengeraskan takbirnya ketika keluar menuju masjid atau tanah lapang untuk shalat.

Dari Umi ‘Athiyyah ra, ia berkata: “Dahulu kami diperintahkan (pada hari ied) untuk mengeluarkan wanita…selanjutnya

 

c- Shalat Gerhana Gerhana (Bulan dan Matahari) sebagai satu perkara yang luar biasa. Kejadian gerhana ini merupakan di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Apabila terjadi gerhana bulan ataupun matahari maka disunnahkan bagi kita untuk mengerjakan sholat sunah gerhana bulan (Kusuf) atau gerhana matahari (Khusuf).Shalat ini hukumnya sunah mu’akkadah yaitu sunah yang selalu dilakukan oleh Nabi saw secara berjama’ah sebanyak dua raka’at

Nabi saw bersabda: Sesungguhnya matahari dan bulan tidak mengalami gerhana kerena kematian seseorang atau kehidupannya (kelahirannya). Tetapi, kedua-duanya adalah dua tanda antara tanda-tanda kebesaran Allah. Apabila kamu semua melihat kedua-duanya (mengalami gerhana) maka dirikanlah sholat. (HR Bukhari Muslim)

Cara ringkas mengerjakan sholat gerhana:

Raka’at pertama

  • Takbiratul Ihram diiringi dengan niat di dalam hati untuk mengerjakan sholat gerhana (kusuf atau khusuf),
  • Membaca do’a iftitah (lihat do’a iftitah dalam shalat)…selanjutnya

 

d- Shalat Istisqa’ (Minta Hujan)

Istisqa’ dalam bahasa artinya meminta hujan, yaitu berdo’a kepada Allah meminta diturunkan hujan di saat terjadinya musim peceklik atau kemarau panjang. Maka pada saat itu disunahkan melaksanakan shalat istisqa dua raka’at.

Daripada ‘Abbad bin Tamim dari pamannya, ia berkata: Nabi saw keluar untuk mengerjakan solat Istisqa’. Beliau sholat dua raka’at, mengeraskan bacaan dalam kedua raka’at, merobah selendangnya dan mengangkat kedua tangannya (HR Bukhari Muslim)

Ada beberpa hal yang perlu diketahui dalam pelaksanaan shalat istisqa’:

– Shalat istisqa dilakukan dua raka’at, seperti shalat ied, bertakbir tujuh kali di raka’at pertama dan lima kali pada raka’at kedua selain takbiratul ihram dan takbir bangun dari ruku.

– Disunahkan bagi imam mengeraskan suaranya dalam shalat, dan membaca surat setelah al-Fatihah sama dengan bacaan surat dalam shalat ied.

Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: Nabi saw keluar ke mushalla (untuk bersolat Istisqa) mengenakan pakaian biasa (bukan seperti pakaian Hari Raya) dengan penuh harapan. Beliau sholat dua raka’at sebagaimana sholat ied. (HR Ahmad, Ashabus-sunan, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasai’ dengan isnad shahih)…selanjutnya

Posted on November 28, 2013, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: